IDNPRO.CO, Batam – Pondok Pesantren (Ponpes) NAM Islamic Bording School (IBS) Batam memulai kolaborasi internasional melalui program bertajuk Kembara Ilmu Jalinan Mesra. Kegiatan ini melibatkan kunjungan delegasi dari Sekolah As-Siddiqien (Assiddeekien School) Thailand Selatan sebagai upaya pertukaran ilmu dan penguatan dakwah Islam di kawasan ASEAN.
Ketua Yayasan Pondok Pesantren NAM IBS Batam, Jafaruddin, menyampaikan bahwa program ini merupakan wadah untuk saling berbagi praktik terbaik antar lembaga pendidikan.
“Istilahnya ini ngaji bareng’. Mana yang baik dari Thailand akan ditularkan ke sini, begitu juga sebaliknya. Kita ingin satu ASEAN ini menjadi satu kesatuan, khususnya dalam pengembangan dakwah Islam melalui sekolah-sekolah berbasis Islam dan pondok pesantren,” ujar Jafaruddin.
Perwakilan dari Sekolah As-Siddiqien Thailand, Muhammad bin Abdul Rahman, juga mengungkapkan kekagumannya terhadap fasilitas dan metode pembelajaran di NAM IBS Batam, khususnya dalam aspek kebahasaan.
Ia menjelaskan bahwa di Thailand Selatan itu 95% beragama Islam (Patani, Narathiwat, dan Yala), pendidikan Islam sangat berkembang dengan penggunaan kitab kuning dan tulisan Jawi. Melalui kunjungan ini, pihaknya ingin mengadopsi keberhasilan NAM dalam mengembangkan kemampuan bahasa Arab dan Inggris santri.
“Kami melihat suasana dan aktivitas bahasa Arab di sini sangat bagus. Kami ingin mengambil pengalaman ini agar pelajar kami bisa mendapatkan manfaat serupa selama kegiatan dua minggu ini,” kata Muhammad.
Selain aspek akademik, kolaborasi ini juga diperkuat melalui jalur kepanduan. Kak Indra selaku Ketua Pramuka Pariwisata Kota Batam, menekankan pentingnya posisi strategis Batam yang berbatasan langsung dengan Singapura, Malaysia, dan Thailand.
“NAM IBS termasuk salah satu pangkalan Pramuka yang sangat aktif di level ASEAN. Kami sudah pernah membawa NAM IBS Batam ke Thailand dan Brunei.
Ke depan, kita ingin mengundang lebih banyak negara untuk duduk bersama. Melalui Pramuka, kita angkat persahabatan antarnegara, terutama sesama Pramuka Muslim,” jelas Indra.
Program ini diharapkan tidak hanya berhenti pada kunjungan satu arah, tetapi berlanjut menjadi pertukaran pelajar dan guru secara rutin. Dengan visi menyatukan dakwah di Asia Tenggara, kolaborasi ini diharapkan mampu mencetak generasi muda Islam yang unggul dan memiliki jaringan internasional yang kuat.(Yok)
