IDNPRO.CO, Batam – Bau khas asin laut membumbung tinggi menyambut deru mesin pancung yang merapat di dermaga kayu Pulau Gara, Kelurahan Kasu, Kecamatan Belakang Padang, Batam, Kepuluan Raiu (Kepri).
Di pulau kecil yang dipeluk lautan Kepulauan Riau ini, deretan balai-balai bambu membentang memajang ribuan ekor ikan bilis yang tengah dijemur di bawah terik matahari pesisir.
Di balik riuhnya aktivitas pengolahan hasil laut tersebut, ada sosok perempuan paruh baya bernama Ibu Ayong. Dengan telaten, jemarinya memilah-milah tangkapan laut yang baru saja dipasok oleh para nelayan lokal.
Selama hampir lima tahun terakhir, Ibu Ayong mendedikasikan hidupnya merintis dan membesarkan usaha pengolahan ikan bilis secara mandiri. Dari sekadar usaha skala rumah tangga tanpa modal besar, olahan bilis dari genggaman tangannya kini menjadi salah satu komoditas tangguh yang menyokong ketahanan ekonomi warga pulau.
Menjalankan usaha pengolahan hasil laut di wilayah pulau terdepan seperti Pulau Gara bukanlah perkara gampang. Ibu Ayong mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam bisnisnya adalah ketergantungan yang amat tinggi pada cuaca dan pasang surut air laut.
“Bahan pokok kami sepenuhnya bergantung pada rezeki yang diturunkan dari laut,” kata Ibu Ayong saat di konfirmasi melauli telefon seluler, Minggu 4 Oktober 2026.
“Laut tidak pernah bisa kita atur. Terkadang nelayan pulang membawa ikan bilis ukuran sedang atau besar. Di waktu lain, kami dapat ikan bilis halus yang sangat kecil seperti teri nasi, atau sesekali ikan tamban kecil.”Ungkapnya.
“Keragaman jenis dan ukuran ikan ini menuntut fleksibilitas ekstra dalam proses pengolahan. Ikan bilis halus atau teri nasi, misalnya, membutuhkan penanganan yang sangat teliti agar bentuknya tidak hancur saat perebusan maupun pengeringan. Sementara ikan bilis besar dan ikan tamban kecil memerlukan waktu penggaraman serta penjemuran yang sedikit lebih lama agar kadar airnya benar-benar menyusut sempurna.”Lnjut ibu Ayong.
Selain ketersediaan ikan, keberlanjutan proses produksi Ibu Ayong dipengaruhi oleh pasokan garam kasar berkualitas tinggi. Garam kasar inilah yang menjadi bahan pengawet alami utama agar kelezatan dan daya tahan ikan bilis tetap terjaga tanpa menyentuh bahan kimia berbahaya. Untuk menjaga kontinuitas bahan baku dasar ini, Ibu Ayong mengandalkan rantai pasok lokal.
“Garam kasar kami peroleh dari persediaan toke masing-masing. Mereka yang memasok garam, lalu kami olah sesuai standar kadar asin yang pas agar gurihnya menyatu sempurna,” jelasnya.
Cerita sukses Ibu Ayong bukan didapat dari warisan modal atau kemudahan modal usaha. Lima tahun lalu, ia memulai pengolahan bilis ini seratus persen dari nol. Tanpa pekerja dan modal melimpah, ia melakoni seluruh rantai produksi seorang diri, mulai dari membersihkan ikan, menggarami, merebus, memindahkan ke wadah penjemuran, hingga mengemas produk jadi.
Ketekunan dan konsistensi menjaga rasa serta kebersihan olahan perlahan membuahkan hasil. Pengolahan bilis rumahan yang dirintis secara swadaya ini lambat laun menunjukkan grafik pertumbuhan yang stabil. Seiring berjalannya waktu, hasil olahan bilis dari tempatnya terkenal memiliki tekstur renyah alami dengan tingkat keasinan yang seimbang.
Sistem distribusi produk olahan Ibu Ayong kini telah menjangkau bangsa pasar yang cukup solid. Sebagian besar hasil olahan bilis dipasok kembali ke toke-toke ikan besar yang bertindak sebagai distributor utama di kawasan pesisir Batam. Namun, tak jarang ia memenuhi pesanan langsung dari pelanggan setia dan rekan-rekannya yang berdomisili di kawasan perkotaan Batam.
“Sebagian besar memang kita jual langsung ke toke ikan. Tapi tidak sedikit juga kawan-kawan dari perkotaan Batam yang memesan secara khusus. Ada yang untuk dikonsumsi sendiri, ada juga yang dijadikan oleh-oleh khas pesisir,” ungkap Ibu Ayong.
Bagi masyarakat Kota Batam dan sekitarnya, ikan bilis olahan dari kawasan Belakang Padang memegang reputasi istimewa. Ikan ini sering kali menjadi hidangan favorit penambah selera, baik digoreng garing bersama kacang tanah dan cabai, maupun disajikan sebagai pelengkap nasi lemak khas Melayu.
Kehadiran usaha pengolahan ikan bilis milik Ibu Ayong di Pulau Gara bukan sekadar urusan dapur rumah tangga. Secara tidak langsung, usahanya turut menggerakkan roda ekonomi lokal di Kelurahan Kasu. Dengan membeli hasil tangkapan nelayan kecil secara rutin dan memanfaatkan jaringan pasokan lokal, rantai ekonomi mikro di pulau tersebut tetap berputar gairah.
Kecamatan Belakang Padang sendiri dikenal sebagai salah satu wilayah kepulauan terluar di Kota Batam yang berbatasan langsung dengan Singapura. Kehidupan masyarakatnya yang sangat bergantung pada sektor maritim menjadikan usaha-usaha pengolahan hasil laut seperti milik Ibu Ayong sebagai benteng pertahanan ekonomi keluarga.
Meskipun usaha ini telah berjalan selama lima tahun dan menunjukkan prospek yang cerah, Ibu Ayong tidak cepat berpuas diri. Ia berharap ke depan ada perhatian lebih bagi para pelaku usaha mikro di pulau-pulau kecil, terutama dalam hal modernisasi alat pengeringan agar produksi tetap berjalan efisien saat musim hujan tiba.
“Harapan saya sederhana, ingin usaha ini terus berjalan lancar dan kualitas bilis dari Pulau Gara bisa makin dikenal luas. Walaupun kita tinggal di pulau kecil, kualitas olahan laut kita tidak kalah bersaing,” pungkas Ibu Ayong sembari menatap bentangan laut lepas tempat rezeki hariannya digantungkan.
Dari balik hamparan jemuran bilis di Pulau Gara, cerita Ibu Ayong adalah cerminan ketangguhan masyarakat pesisir Kepulauan Riau. Sebuah bukti nyata bahwa dari kesederhanaan, ketekunan, dan kekayaan laut lokal, kemandirian ekonomi dapat tumbuh subur mendatangkan keberkahan, amin yarabbal alamin.(yok)
