IDNPRO.CO, Jakarta – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Cipinang menggelar program pembelajaran lintas budaya bertajuk Knowledge Sharing: Learning from Japan pada Jumat, 16 Oktober 2026. Kegiatan yang digagas oleh Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Warga Mandiri ini menghadirkan seorang warga binaan berkewarganegaraan Jepang sebagai narasumber utama.
Dalam sesi diskusi yang diikuti puluhan warga binaan tersebut, narasumber berinisial KZ membagikan pandangannya mengenai nilai-nilai kehidupan masyarakat Jepang, seperti kedisiplinan, budaya kebersihan, pengelolaan sampah, pendidikan karakter, hingga etos kerja.
Tak hanya itu, KZ juga menceritakan pengalamannya menguasai profesi sebagai juru masak (chef) secara otodidak tanpa latar belakang pendidikan formal kuliner. Kisah keberhasilannya menekuni minat tersebut menjadi inspirasi bagi para peserta.
“Saya senang bisa berbagi pengalaman dengan teman-teman di sini. Kita memiliki latar belakang berbeda, tetapi selalu ada pengetahuan yang bisa dipelajari bersama,” ujar KZ di sela-sela kegiatan.
Acara yang dipandu oleh warga binaan lain berbahasa Jepang ini berlangsung interaktif. Pembina PKBM Warga Mandiri, Septiyawan, membuka kegiatan dengan menekankan pentingnya memanfaatkan keanekaragaman latar belakang penghuni lapas sebagai sumber belajar.
Respon positif datang dari salah satu peserta, SR. Ia mengaku mendapatkan wawasan baru, khususnya terkait kebiasaan masyarakat Jepang dalam menjaga kedisiplinan dan kebersihan lingkungan. Menurutnya, prinsip-prinsip sederhana tersebut sangat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di dalam lapas.
Sementara itu, Kepala Seksi Bimbingan Kemasyarakatan Lapas Kelas I Cipinang, Yudha Ageng CH, menyampaikan pesan Kepala Lapas, Syarpani. Ia menegaskan komitmen institusi untuk terus memfasilitasi ruang belajar yang inklusif dan partisipatif.
“Bapak Kalapas mendorong agar PKBM tidak hanya menjadi wadah pendidikan kesetaraan, tetapi juga ruang belajar yang memanfaatkan keberagaman keterampilan warga binaan. Setiap individu memiliki potensi untuk belajar sekaligus memberi manfaat bagi sesamanya,” tutur Yudha.
Melalui pendekatan ini, Lapas Cipinang menempatkan warga binaan tidak sekadar sebagai penerima pembinaan, melainkan juga sebagai penggerak dan pemandu pertukaran ilmu pengetahuan sesama penghuni.(yok)
