Batam  

Lawan Arus Masih Marak di Batam, Kesadaran Pengendara Jadi Kunci Keselamatan

IDNPRO.CO, Batam – Aksi pengendara sepeda motor yang melawan arus masih menjadi pemandangan sehari-hari di sejumlah ruas jalan di Kota Batam. Meski berbagai fasilitas keselamatan telah disediakan dan petugas rutin melakukan pengawasan, pelanggaran tersebut tetap kerap terjadi dan berpotensi memicu kecelakaan lalu lintas.

Banyak pengguna jalan mengaku pernah mengalami situasi ketika sedang berkendara di jalur yang benar, namun tiba-tiba berhadapan dengan sepeda motor yang datang dari arah berlawanan. Kondisi ini bukan lagi terjadi sekali atau dua kali, melainkan hampir setiap hari di sejumlah titik.

Di Batam, pelanggaran melawan arus masih sering dijumpai di kawasan Simpang Kawasan Industri Tunas, Simpang Helm Legenda, hingga beberapa ruas jalan lainnya. Fenomena tersebut dinilai memprihatinkan karena berisiko membahayakan keselamatan seluruh pengguna jalan.

Padahal, berbagai upaya telah dilakukan untuk menciptakan lalu lintas yang lebih tertib. Kepolisian bersama Dinas Perhubungan secara rutin melakukan pengaturan arus kendaraan di lapangan. Selain itu, berbagai fasilitas pendukung keselamatan seperti water barrier, traffic cone, pagar pembatas, marka jalan, hingga rambu larangan telah dipasang di sejumlah titik rawan.

Namun demikian, masih banyak pengendara yang memilih mengambil jalan pintas dengan melawan arus. Alasan yang kerap disampaikan antara lain enggan memutar lebih jauh, ingin menghemat waktu, atau merasa sudah memahami kondisi jalan sehingga yakin dapat menghindari kendaraan dari arah berlawanan.

Menurut Renita Kusuma, keputusan untuk melawan arus yang terlihat sederhana justru membawa konsekuensi besar terhadap keselamatan.

“Jalan raya dirancang agar setiap pengguna dapat memprediksi arah datangnya kendaraan lain. Ketika ada kendaraan muncul dari arah yang tidak semestinya, ruang untuk bereaksi menjadi jauh lebih sempit dan potensi kecelakaan meningkat,” ujar Renita Kusuma, (13/7/26).

Ia menilai, persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan pelanggaran aturan lalu lintas, tetapi juga menyangkut budaya berkendara di masyarakat. Kebiasaan satu pengendara melawan arus sering kali diikuti pengendara lain hingga akhirnya dianggap sebagai hal yang lumrah.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa keselamatan berlalu lintas tidak hanya bergantung pada kualitas infrastruktur maupun keberadaan petugas di lapangan.

“Jalan yang baik, rambu yang lengkap, maupun kehadiran petugas tetap memiliki batas efektivitas apabila tidak diiringi dengan kesadaran pengguna jalan. Sebagus apa pun rekayasa lalu lintas, keselamatan akan sulit terwujud apabila aturan hanya dipatuhi ketika ada petugas yang mengawasi,” jelasnya.

Renita menegaskan bahwa melawan arus bukan sekadar pelanggaran terhadap rambu lalu lintas, tetapi juga bentuk pengabaian terhadap hak pengguna jalan lain untuk berkendara dengan aman.

“Waktu yang mungkin hanya dapat dihemat beberapa menit tidak sebanding dengan risiko yang harus ditanggung apabila terjadi kecelakaan. Jalan raya adalah ruang bersama, sehingga keselamatan hanya dapat terwujud jika setiap pengguna jalan mau memulai dari dirinya sendiri dengan tetap berada di jalur yang benar,” tutupnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *