Pengungsi Erupsi Lewotobi Capai Lebih 6 Ribu Jiwa Sejak Awal Januari

Salah satu pengungsi erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di posko SMPN 1 Wulanggitang mengatakan mereka telah mengungsi sejak 1 Januari 2024 lalu. (Foto: cnnindonesia)

IDNPRO.CO, KUPANG – Ribuan warga dari beberapa desa yang terdampak erupsi Gunung Api Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) masih bertahan di beberapa titik pengungsian.

Para pengungsi itu masih belum bisa kembali ke rumah di desa mereka, karena erupsi disertai luncuran awan panas guguran masih terus terjadi walaupun secara fluktuatif.

Data yang dikeluarkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flores Timur menyebutkan jumlah warga yang mengungsi akibat erupsi Gunung Api Lewotobi Laki-laki mencapai 6.311 jiwa.

“Data sementara pengungsi erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki Senin, 22 Januari 2024 pukul 18.00 Wita jumlah pengungsi 6.311 jiwa,” mengutip keterangan tertulis yang dikeluarkan Posko Utama Pengungsian Kabupaten Flores Timur di Kantor Kecamatan Ilebura.

Warga terpaksa mengungsi, karena lokasi desa mereka masuk dalam zona merah atau lokasi rawan bencana karena letaknya sangat dekat dengan Gunung Lewotobi yang berjarak kurang dari 5 kilometer.

Rincian pengungsi erupsi Lewotobi Laki-laki

Menurut data dari Posko Utama Pengungsi ribuan pengungsi tersebut tersebar di beberapa titik antara lain tenda pengungsian, rumah warga, dan fasilitas umum seperti sekolah, puskesmas, kantor desa, dan kantor kecamatan.

Untuk di tenda pengungsian, Posko Pengungsi Flores Timur mencatat ada di delapan titik tenda pengungsian di depan kantor Desa Konga, Kecamatan Tetihana yang menampung 2.568 jiwa.

“Laki-laki 1.340 jiwa, perempuan 1.228 jiwa, bayi 28 jiwa, balita 138 jiwa, ibu hamil 13 jiwa, ibu menyusui 45 jiwa, lansia 311 jiwa, dan disabilitas 32 jiwa,” tulis Posko Utama Pengungsian dalam data pengungsi yang diterima, Selasa (23/1/24).

Sementara itu ada 3.683 jiwa yang mengungsi ke rumah warga dan kerabat lainnya yang tersebar di 32 titik desa di Kabupaten Flores Timur dan 3 desa di Kabupaten Sikka.

Dalam rincian data di Posko Pengungsi, warga yang mengungsi ke rumah warga adalah laki-laki 1.721, perempuan, 1.962 jiwa, bayi 34 jiwa, balita 222 jiwa, ibu hamil 5 jiwa, ibu menyusui 18 jiwa, lansia 338 jiwa, dan disabilitas 3 jiwa.

“Untuk di fasilitas umum, tersebar di dua titik fasilitas umum dengan jumlah pengungsi 60 jiwa,” demikian keterangan Posko Utama Pengungsi.

Pengungsi mulai terserang penyakit

Dalam data tersebut juga disampaikan ada 13 jenis penyakit yang menyerang para pengungsi dengan jumlah 4.840 kasus yang dilaporkan dari posko kesehatan di dua titik pengungsian.

Terbanyak para pengungsi mengalami penyakit ISPA yang mencapai 2.201 kasus diikuti penyakit lainnya yakni Dermatitis 431 kasus, Mialgia 269 kasus, Gastritis 237 kasus, dan Dyspepsia 238 kasus.

Sementara itu Penjabat Bupati Flores Timur, Doris Alexander Rihi mengatakan kebutuhan dasar yang paling dibutuhkan pengungsi adalah logistik dan obat-obatan.

“Terutama makanan bayi dan ibu hamil yang sangat dibutuhkan, begitu juga dengan selimut dan masker,” ujar Doris.

Dia menjelaskan sejak posko pengungsian dibuka pada awal Januari 2024 menyusul terjadinya erupsi Gunung Letowotobi Laki-laki, seluruh kebutuhan terutama makanan bagi pengungsi masih terpenuhi.

di tenda pengungsian Desa Konga, Kecamatan Tetihana untuk setiap tenda pengungsi berukuran 6 x 4 meter diisi sekitar 60-65 pengungsi.

Begitupun di lokasi pengungsian SMP Negeri 1 Wulanggitang setia ruang kelas yang digunakan oleh pengungsi diisi 60 hingga 65 jiwa yang terdiri dari orang dewasa, anak-anak dan bayi.

Menurut seorang pengungsi di SMPN 1 Wulanggitang yakni Bertolomeus Romo mengatakan, telah mengungsi sejak 1 Januari 2024 lalu.

“Kalau disini seluruh kebutuhan terpenuhi, tiap hari diberi makan nasi bungkus dari posko utama. Anak, bayi semua sama, dikasih makan,” kata Bertolomeus Romo.

Bertolomeus mengaku masih trauma untuk pulang karena selalu dihantui suara gemuruh dari gunung setiap kali akan erupsi. Apalagi jarak desa mereka sangat dekat dengan gunung. (*/Del)









Sumber: cnnindonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://idnpro.co/